Tiga Pelajaran Pada Momentum Idul Fitri

Segala puji bagi Allah, yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat hamba-hambanya, Maha suci Allah, Dia-lah yang menciptakan bintang-bintang di langit, dan dijadikan padanya penerang dan Bulan yang bercahaya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, yang diutus dengan risalah kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, mengajak pada kebenaran dan menerangi umatnya dengan cahaya keimanan. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Rasulallah SAW bagaikan Abu Bakar yang menangis bahagia saat diizinkan Rasulallah SAW untuk menemaninya dalam berhijrah ke Madinah. Aisyah (RA) berkata, “Maka, aku melihat Abu Bakar menangis, dan aku tak pernah mengira ada seseorang yang menangis sedemikian hebatnya karena bahagia”. Ya Allah, jadikanlah kecintaan kami kepada Rasulallah SAW bagaikan Bilal bin Rabah yang tak mampu lagi kumandangkan adzan setelah kematian Rasulallah SAW, Dia memilih hidup di Suriah agar dapat berjihad dalam dakwah, namun kecintaannya kepada Rasulallah tak pernah bisa pudar. Saat sakratul maut, isterinya menangis sebab mereka jauh dari para sahabat Nabi di Madinah. Bilal berkata, Janganlah engkau menangis, dinda, sebab besok aku akan berjumpa dengan (manusia) yang paling kucinta, Muhammad SAW.

الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد
Setidaknya ada tiga Tiga Pelajaran Pada Momentum Idul Fitri .

Pertama: Idul Fitri sebagai momentum pembelajaran tentang usia. Ketika Rasulallah SAW berhijrah ke Madinah, beliau SAW mendapati orang-orang berpesta selama dua hari. Rasulallah SAW bertanya, “Ada apa ini?” Para penduduk Madinah itu menjawab, “Kami berpesta dalam dua hari ini”. Rasulallah SAW kemudian berkata, “Sungguh, Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik yaitu: Idul Fitri dan Idul Adha”. Sejak peristiwa itu umat Islam menunaikan shalat Idul Fitri di Madinah. Budaya jahiliyah yang berpesta selama dua hari, diganti oleh ajaran Islam dengan bersyukur pada Allah SWT. Sepanjang malam , kaum muslimin bertakbir, bertahmid, bertasbih, dan bertahlil mengagungkan asma Allah SWT. Di Madinah, Rasulallah SAW bertindak selaku imam shalat dan khatib . Shalat ditunaikan tanpa adzan dan iqomah. Rasulallah memimpin sholat ‘Id, lalu beliau SAW menyampaikan khutbahnya.
الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد
Syukur bahwa kita bisa sampai di gerbang kemenangan Idul Fitri dengan diberikan umur panjang. Umur merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang seringkali diabaikan oleh hamba-hamba-Nya. Ada dua nikmat, kata Rasulallah SAW, yang manusia sering terlena yaitu: sehat dan usia. Bukankah tidak ada seorang pun di antara kita yang mampu membendung perjalanan usia. Karena itu, Idul Fitri menjadi pembelajaran penting tentang perjalanan usia. Bila pada Idul Fitri tahun lalu kita masih berusia dua puluh lima tahun, misalnya, maka Idul Fitri tahun ini kita sudah berusia dua puluh enam tahun. Begitulah seterusnya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Mu’adz bin Jabal, Rasulallah bersabda, “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba di hari kiamat hingga ditanyakan kepadanya empat hal: Usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia keluarkan, serta ilmunya, apa yang ia telah perbuat dengannya.” Manusia tercipta mula-mula lemah, kemudian kuat, dan kemudian lemah kembali seraya tumbuh uban di kepalanya. Allah SWT berfirman, Allah, Dialah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu sesudah keadaan lemah itu menjadi kuat. Kemudian Dia menjadikan kamu sesuadah kuat itu lemah (kembali) dan beruban.(QS. Ar-Rum/34:54) Bila kita renungi secara lebih sungguh-sungguh, maka kita akan dapatkan bahwa seluruh rangkaian kewajiban agama kita merupakan peringatan bagi diri kita tentang perjalanan usia kita di dunia ini. Untuk itulah, para ulama terdahulu, dalam upayanya merenungi setiap detik kehidupan yang dijalaninya, mengatakan, shalat lima waktu adalah “neraca harian” . Shalat Jum’at merupakan “neraca pekanan”, puasa di bulan Ramadhan menjadi semacam “neraca tahunan”, dan ibadah haji menjadi “neraca atau timbangan usia”. Bila setiap muslim melakukan kalkulasi dengan benar pada neraca hariannya, pekanannya dan tahunan niscaya ia akan beruntung dalam menapaki kehidupan ini. Demikian pula sebaliknya, mereka yang tak pernah melihat neraca kehidupannya, hanya akan menjadi manusia-manusia yang merugi. Umar bin Khattab berkata, barangsiapa yang hari ini sama dengan harinya yang kemarin, maka dia adalah orang yang tertipu. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia adalah orang yang tercela. Sadarkan diri kita semua bahwa usia sangat cepat berlalu. Ia berlari meninggalkan kita melebihi kemampuan kita untuk mengejarnya. Perhatikanlah, rasanya baru kemarin kita memulai ramadhan, tetapi kini kita telah berada di hari raya Idul Fitri. Baru kemarin, rasanya, kita duduk di bangku Sekolah Dasar, bermain-main petak umpat dengan teman sebangku, bercengkerama dengan teman sekelas dan bersenda gurau di bangku kuliah. Kini kita telah disini, di kesenjaan usia kita, sebagian telah merayakan reuni alumni, sebagian lain telah bermenantu, beranak cucu dan sebagian lain sulit menemukan rambut hitam di kepalanya sendiri. Waktu laksana angin, ia berhembus cepat baik saat kita senang ataupun susah. Dan, manakala maut datang menjemput, masa-masa yang panjang yang pernah dilalui seseorang hanyalah merupakan bilangan masa pendek yang berlalu bagaikan kilat. Penyair Arab mengatakan, Apabila akhir dari perjalanan umur adalah kematian, maka panjang pendeknya usia sama saja. Ia hanya tertulis di batu nisan. Selebihnya adalah hisab Maha benar Allah SWT dalam firman-Nya, Pada hari mereka melihat hari kebangkitan itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melaikan (sebentar saja) yaitu di waktu sore atau di waktu pagi. (QS: An-Nazi’at/76: 46) Waktu yang telah berlalu tak akan pernah kembali. Setiap detik yang bergeser , telah menjadi sesuatu yang lampau. Ia pergi dan kita masih di sini, dengan sejuta persoalan yang membelenggu diri kita. Hasan al-Basri, seorang penyair sufi berkata, Tidaklah fajar hari ini terbit, kecuali ia akan memanggil, “Wahai anak Adam, aku adalah ciptaan yang baru dan aku akan menjadi saksi atas setiap pekerjaanmu, maka mintalah bekal kepadaku. Karena bila aku telah berlalu, aku tak akan kembali hingga hari kiamat tiba.” Untuk itulah, sering kita dapati orang yang meratapi masa mudanya saat ia telah berusia renta, lanjut dimakan zaman, rapuh dikikis angan-angan. Maka, hari ini kita pun berbahagia sebab diberi umur panjang dan telah terlahir kembali sebagai manusia yang bersih. Ibarat ulat, kita telah melewati masa kepompong. Kini, kita telah menjadi kupu-kupu yang indah setelah sebulan penuh dibungkus dalam ketaatan kepada Allah SWT, menahan hawa nafsu, amarah murka, bahkan menghindari hal-hal yang halal di siang hari.
الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Kedua: Idul Fitri sebagai momentum pembelajaran tentang taubat. Pembelajaran kedua dari peristiwa Idul Fitri adalah tentang taubat. Selama Ramadhan, kita bertarawih, qiyamul lail, shalat witr dan berbagai ibadah sunnah lainnya yang merupakan wujud taubat kita. Kini, Idul fitri menjadi gerbang kemenangnya. Dalam menjalani kehidupan ini, kita pasti pernah berbuat salah dan dosa. Hal demikian adalah manusiawi. Sebab, bukankah Rasulallah SAW bersabda, “Setiap anak cucu Adam memiliki dosa, dan sebaik-baik pendosa adalah dia yang bertaubat”.(HR Ibnu Majah). Mengapa demikian, sebab “manusia diciptakan dalam keadaan lemah” (QS An-nisa: 28) Manusia yang lemah itu diberikan jalan taubat sebagai wujud kasih sayang Allah kepada manusia. Suatu hari, Umar bin Khattab RA datang menghadap Rasulallah SAW dengan membawa beberapa orang tawanan. Di antara para tawanan itu terlihat seorang wanita sedang mencari-cari anaknya, lalu jika ia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan dia langsung mengambil bayi itu, mendekapkannya ke perut untuk disusui. Lalu Rasulullah SAW berkata kepada kami, “Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?” Kami menjawab, Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk melemparnya. Rasulullah SAW bersabda, “sungguh Allah lebih mengasihi hamba-Nya dari pada wanita ini terhadap anaknya”. (HR Muslim). Karena sedemikian kasih dan sayangnya Allah pada kita, maka Allah sangat senang bila seorang hamba terlanjur berbuat dosa lalu bertaubat, berjanji sepenuh hati tak akan pernah mengulangi perbuatannya. Rasulallah SAW menggambarkan kesenangan Allah itu dengan berkata, “Sungguh Allah akan lebih senang menerima taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya dari pada (kesenangan) seorang di antara kalian yang menunggang untanya di tengah padang luas yang sangat tandus, lalu unta itu terlepas membawa lari bekal makanan dan minumannya dan putuslah harapannya untuk memperoleh kembali. Kemudian dia menghampiri sebatang pohon lalu berbaring di bawah keteduhannya karena telah putus asa mendapatkan unta tunggangannya tersebut. Ketika dia dalam keadaan demikian, tiba-tiba ia mendapati untanya telah berdiri di hadapannya….. (HR Muslim) Seringkali kita merasa bahwa dosa yang kita lakukan hanya dosa-dosa kecil saja, sehingga tak diperlukan segera bertaubat. Ibnul Qayyim berkata, Jangan meremehkan dosa-dosa kecil. (Lihatlah) patok kayu (di dermaga) yang melilit tambang, ia bahkan dapat menarik kapal. Karena itu, taubat tidaklah sebatas usaha seorang hamba untuk memohon ampunan dari Allah, namun ia sekaligus termasuk ibadah yang mulia di sisi-Nya karena perbuatan itu merupakan perintah dari Allah. Sebagaimana Allah berfirman, Hai orang-orang yang beriman, bertobatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS At-tahrim:8) Karena itulah, taubat merupakan amalan para nabi. Aisyah mengatakan, “Dahulu Rasulullah sebelum meninggal banyak mengucapkan: maha Suci Allah dan dengan memuji-Nya aku memohon ampun dan aku bertaubat kepada-Nya.” (HR Bukhari-Muslim) Demikian pula para nabi sebelumnya. Adam dan Hawa, adalah para pendosa pertama yang segera bertaubat. Allah abadikan dalam firman-Nya, “Keduanya berkata, wahai Tuhan kami, kami adalah orang-orang yang berbuat zhalim pada diri-diri kami, kalau sekiranya Engkau tidak mengampuni (dosa-dosa) dan merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang celaka”. (QS Al-A’raf: 23) Saudaraku, sesungguhnya rahmat Allah itu sangat luas sehingga tidak sepantasnya bagi seorang hamba untuk berputus asa dari rahmat-Nya. Ibnul Qayyim berkata, Sekiranya seorang pelaku maksiat mengetahui bahwa kenikmatan bertaubat lebih dahsyat berlipat-lipat dari kelezatan maksiat, niscaya dia akan bersegera menuju taubat lebih cepat dari usahanya menggapai maksiat.
الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد

Ketiga: Idul Fitri sebagai momentum pembelajaran tentang sabar Selama ramadhan kita dilatih untuk bersabar, dan Idul Fitri ini adalah momentum gerbang kemenangannya. Seringkali, dalam menjalani kehidupan ini, kita bertemu dengan persoalan yang menguras energi, sabar adalah kunci jawabannya. Dalam ilmu akhlak, sabar dimaknai “berjuang melakukan segala perintah Allah, menjauhi larangannya dan menghindar dari prasangka buruk atas segala takdir-Nya”. Ia mudah diucapkan, sulit dilaksanakan. Suatu kali, Rasulallah SAW melewati pemakaman. Beliau mendapati wanita menangis tersedu-sedu, beliau kemudian berkata, “bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah”. Wanita itu menjawab, “engkau tidak merasakan apa yang kurasakan, karena engkau tidak mengalami musibah seperti aku”. Wanita itu tak mengetahui bahwa itu Rasulallah SAW sampai seseorang kemudian memberitahunya. Dia lalu mendatangi rumah Rasulallah SAW, dan meminta maaf. “Aku tadi tidak mengenalimu”, katanya. Rasulallah SAW pun berkata, “Sesungguhnya sabar itu adalah pada pukulan pertama”. (HR Muslim) Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa sabar itu bukanlah selepas kita puas mengamuk, mencaci-maki lalu setelah tersadar, kita mengurut dada sambil berkata, “Aku sabar sekarang”. Lebih jauh, Rasulallah SAW mengingatkan bahwa para Nabi adalah orang-orang yang paling berat ujiannya, lalu orang-orang shaleh, lalu masyarakat pada umumnya. Karena itu, saat mendapat musibah yang menguji kesabaran, kita berharap sedang naik kelas menuju tangga kemuliaan yang lebih tinggi. Ibnul Qayyim berkata, “Jika kesulitan hidup yang engkau rasakan berkepanjangan padahal tak pernah berhenti kau berdoa pada Allah, yakinlah bahwa sesungguhnya Allah tidak saja ingin menjawab doa-doamu itu. Tetapi Dia ingin memberikanmu karunia lain yang bahkan engkau tak memintanya”. Ulama mengatakan, tiga hal yang merusak kesabaran yaitu: tergesa-gesa, marah dan cepat putus asa. Umar bin Khattab berkata, “tergesa-gesa adalah perbuatan syaitan”. Marah juga merusak kesabaran. Dikisahkan bahwa Nabi Yunus tak kuasa menahan emosi. Dia pergi meninggalkan kaumnya yang tak kunjung beriman. Namun, kepergiannya belum mendapat izin Allah SWT. Alih-alih untuk mendapatkan kebebasan, dia justru mendapatkan kesempitan. Dalam perjalanan lautnya, dia kemudian ditelah ikan paus. Allah berfirman, “Dan (ingatlah kisah) Nabi Yunus, ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan sangat gelap bahwa: ‘Tidak ada Ilah (yang berhak disembah) selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zhalim”. (QS al-Anbiya: 87) Faktor ketiga yang merusak kesabaran adalah cepat putus asa. Bukankah Nabi Ya’kub tak pernah putus asa mencari puteranya yang hilang hingga Allah pertemukan kembali dengan Nabi Yusuf. Allah SWT abadikan kisah itu pada ayat berikut ini: “Hai anak-anakku, pergilah kalian, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir”. (QS Yusuf: 87) Untuk itulah, para ulama mengatakan, dalam hal kesabaran belajarlah dari Nabi Ayub. Memang sebarapa sabar Nabi Ayub? Dalam riwayat diceritakan, ketika Nabi Ayub diuji dengan penyakit, semua orang menjauhinya. Bukan hanya itu, seluruh usahanya bangkrut. Tujuh anaknya meninggal dan ia didera penyakit menjijikan. Saat semua orang menjauhinya, hanya isterinya yang sabar melayaninya. Hingga suatu hari, isterinya berkata, “Tak bisakah kau meminta Tuhanmu agar menyembuhkanmu dan kehidupan kita kembali normal?”. Sebuah permintaan yang menusiawi. Namun, Ayub menjawab, “Berapa tahun usiaku dalam keadaan sehat dulu?” Istrinya menjawab, “delapan puluh tahun”. Ayub bergumam, “Sungguh tak pantas aku mengeluh untuk sakit yang baru delapan belas tahun ini”. Allah SWT mengabadikan kata hati Ayub dalam firman-Nya, “Dan kisah Nabi Ayub ketika dia bergumam, wahai Tuhanku, Engkau pertemukan aku dengan ujian, dan Engkau sebaik-baik pemberi Kasih Sayang” (QS al-Anbiya: 83). Ayub tak mengeluh sedikitpun. Sampai suatu hari, Ayub meminum segelas air dan dengan izin Allah seluruh penyakitnya hilang. Ia bahkan kembali muda, tampan dan mempesona. Saat isterinya kembali ke rumah, dia tak mengenali suaminya, dan bertanya, “Hai anak muda, apakah engkau melihat orang sakit yang ada di rumah ini?” Ayub tersenyum, dan berkata, “Akulah orang yang engkau maksudkan itu”. Setelah itu, Allah membalas kesabaran Ayub dan istrinya dengan memberi keturunan, harta dan kesuksesan. Ibnu Abbas mengatakan, “kesabaran Ayub dan istrinya adalah teladan utama dalam menghadapi ujian Allah. Karena itu, keduanya mendapat kehormatan dengan diberikan anak-anak sebanyak dua puluh tujuh orang”.
الله أكبر…الله أكبر…الله أكبر…ولله الحمد
Demikianlah tiga pembelajaran dari momentum hari raya Idul Fitri ini. Semoga kita termasuk orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari hari ke hari agar saat usia semakin bertambah, kita semakin sering bertaubat dan semakin pandai pula dalam bersabar Aamiin

CARA MUDAH DOWNLOAD YOU TUBE

Buka halaman youtube yang akan di download, tambahkan huruf ss pada alamat /adrres…Lihat gambar dibawah ini

k1

Setelah huruf ss ditambahkan tekan enter maka dimonitor ada tampilan seperti gambar dibawah ini

k2

Setelah memilih ukuran file yang didownload tekan enter, hasilnya lihat dibawah ini

k3

Klik save  dan tunggu sampai proses download selesai

k1

APA YANG PERLU KITA TINGGALKAN

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya,

Ada dua pertanyaan yang seyogianya mengiringi kepergian kita.

Pertanyaan pertama untuk mengiringi kepergian kita menuju tempat beraktifitas ,adalah; kebajikan apa yang akan di persembahkan kepada Allah SWT dan kebajikan apa yang akan di berikan kepada manusia?

Pertanyaan kedua untuk mengiringi kepergian kita menuju kematian yang sementara (tidur) dan kematian yang sesungguhnya dengan terlepasnya ruh dari jasad, adalah; kebajikan apa yang sudah dilakukan untuk  Allah dan kebajikan apa yang sudah dilakukan untuk manusia?

Dua pertanyaan tersebut akan menjadi suatu hal yang sangat mendasar, karena dengan adanya dua hal tersebut, dalam setiap hari kita akan mempunyai motivasi positif dalam hidup; pengabdian kepada Allah SWT dan perbuatan baik bagi manusia.

Selanjutnya, apa yang kita lakukan hendaklah dimulai dengan nama Allah—didasari oleh semangat melaksanakan perintah Allah dan dipersembahkan kepada Allah. Pada dasarnya, kebaikan apapun yang dilakukan karena mengikuti perintah Allah merupakan wujud kebaikan universal yang bermanfaat kepada diri sendiri dan juga orang lain.

Semangat ajaran Islam mengajak muslim agar menjadi orang yang bermanfaat bagi muslim lainnya, bukan hanya kepada diri sendiri dan bagi umat Muslim saja. Bahkan manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya adalah predikat tertinggi dalam Islam. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Di sini Konsekuensi logisnya, umat yang mengikutinya pun harus dapat menempatkan dan memposisikan dirinya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain maupun bagi alam semesta yang terdiri dari banyak makhluk dengan latar belakang berbeda dan juga kepercayaan yang berbeda.

Al-Qur’an mengajarkan umat Muslim untuk menjadi atau berfungsi sebagai lebah yang dapat menghasilkan madu, satu jenis minuman yang sangat bermanfaat bagi manusia.

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.(Q.S. al-Nahl/16: 68-69).

Terkait dengan ayat tersebut, umat Muslim diharapkan dapat memberikan manfaat dengan kontribusi yang direalisasikan melalui pikiran atau karya nyata lainnya. Jadi karya maupun hasil dari kreativitas kerja Muslim hendaklah merupakan madu yang menyehatkan dan sangat bermanfaat untuk banyak hal, bukan sampah atau racun yang menyengsarakan apalagi mematikan. Karya dibuat dan diberikan dengan tanggungjawab untuk membuat manusia semakin baik. Kerja harus dilakukan dengan penuh pengabdian bagi Allah dan kemanusiaan serta penuh tanggungjawab kepada Allah dan kemanusiaan. Kalaupun tidak bisa berpikir dan berkarya, cukuplah hanya dengan tidak berbuat sesuatu yang dapat merugikan manusia yang lainnya karena bagi orang tipe ini “diam adalah emas”—diam menjadi lebih baik baginya daripada berbuat atau berbicara yang justru hanya berdampak bagi kerugian di pihak lain.

Banyak hal besar dimulai dengan yang kecil. Dengan demikian seseorang akan menikmati berbagai pengalaman antara kesengsaraan dan kenikmatan. (Seperti halnya untuk menjadi seorang pemimpin sebaiknya berangkat dari bawah agar tetap dapat menyadari betapa menghargai orang-orang di bawah itu penting, dan bahwa segala bentuk penindasan itu perbuatan yang dikutuk oleh banyak orang). Tentu apa yang sering kita katakan akan kita perlukan di sini bahwa “Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.” Namun tentunya kalimat itu tidak menjadi legitimasi untuk mengerjakan dan menjalankan sesuatunya secara asal dan kurang bertanggungjawab. Karena kita yakin bahwa sesuatu yang asal-asalan dan tidak bertanggungjawab tidak akan mendatangkan manfaat apapun melainkan hanya penyesalan dan bentuk kebodohan. Wallâhu a’lam bis-shawwâb

“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

Amalan Sunah Bulan Syaban

Marilah kita senantiasa bertakwa kepada Allah kapan dan di manapun kita berada. Karena dengan bertakwalah seseorang akan mendapatkan pertolongan-Nya untuk bisa menghadapi berbagai problema dan kesulitan yang menghadangnya.

Banyak di antara kaum muslimin yang terjebak dalam amalan-amalan bid’ah di bulan Sya’ban ini karena mereka mengamalkan hadits-hadits yang statusnya lemah, lemah sekali dan bahkan palsu. Padahal terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskan dengan rinci bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam mengisi bulan yang mulia ini.

Bulan Sya’ban adalah bulan yang disukai untuk memperbanyak puasa sunah. Dalam bulan ini, Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah. Bahkan beliau hampir berpuasa satu bulan penuh, kecuali satu atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sunah. Berikut ini dalil-dalil syar’i yang menjelaskan hal itu:

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no.1969 dan Muslim no.1156)

Dalam riwayat lain Aisyah berkata:

“Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649)

Dari Ummu Salamah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi no. 726, An-Nasai 4/150, Ibnu Majah no.1648, dan Ahmad 6/293)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis: “Hadits ini merupakan dalil keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)

Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, 2/239)

Maksud berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah berpuasa sunah pada sebagian besar bulan Sya’ban (sampai 27 atau 28 hari) lalu berhenti puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan, baru dilanjutkan dengan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Hal ini selaras dengan hadits Aisyah yang telah ditulis di awal artikel ini, juga selaras dengan dalil-dalil lain seperti:

Dari Aisyah RA berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah biasa berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud—pent) maka silahkan ia berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

Para ulama salaf menjelaskan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya’ban dari puasa wajib Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat sunah qabliyah bagi shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya’ban akan menjadi persiapan yang tepat dan pelengkap bagi kekurangan puasa Ramadhan.

Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau SAW menjawab:

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

Amalan-amalan di Bulan Dzulhijjah

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah ta’ala atas segala nikmat yang dicurahkan kepada hamba-hamba-Nya. Seorang hamba dituntut untuk selalu beribadah kepada Allah ta’ala sepanjang hayatnya. Allah ta’ala berfirman,

“Dan beribadahlah kepada Rabbmu sampai datang kepadamu kematian.” [Al-Hijr: 99]

Dengan hikmah dan rahmat-Nya, Allah ta’ala juga menetapkan berbagai macam bentuk ibadah di waktu-waktu tertentu. Semua itu dalam rangka menyempurnakan tujuan penciptaan manusia di muka bumi ini. Allah ta’ala berfirman,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi–Ku makan. Sesungguhnya Allah Dia-lah Maha Pemberi Rezeki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kukuh.” [Adz-Dzariyat: 56-58]

Diantara waktu yang sangat utama untuk beribadah kepada Allah ta’ala adalah satu bulan yang mulia dalam Islam, yaitu bulan Dzulhijjah,

Sebagaimana juga disebutkan dalam riwayat dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma,

Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tidak ada satu amalan yang lebih suci di sisi Allah ‘azza wa jalla dan lebih besar pahalanya dari satu kebaikan yang dilakukan seseorang pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah.” [HR. Ad-Darimi dalam Sunan-nya no. 1776 dan Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 3476, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 1248]

1. Umrah dan haji

Allah ta’ala berfirman,

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh berbuat keji, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” [Al-Baqoroh: 197]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Antara umroh sampai umroh berikutnya adalah penghapus dosa yang dilakukan antara keduanya, dan haji yang mabrur tidaklah ada balasannya kecuali surga.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu]

Adapun yang dimaksud dengan haji mabrur adalah haji yang memenuhi minimal tiga syarat:

A. Ikhlas karena Allah ta’ala, yang dilandasi dengan tauhid yang murni tanpa tercampur dengan kesyirikan sedikitpun, dan bukan karena ingin riya

B. Mencontoh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam pelaksanaannya, tidak melakukan bid’ah atau amalan yang tidak berdasarkan pada Al-Qur’an dan As-Sunnah

C. Berusaha menjauhi perbuatan-perbuatan yang haram sebelum menunaikan ibadah haji, maupun setelahnya ketika menunaikannya

2. Puasa Sunnah

Disyari’atkan berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arafah) bagi selain jama’ah haji. Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda:

“Puasa tiga hari tiap bulan, puasa Ramadhan sampai Ramadhan berikutnya, maka inilah puasa yang bagaikan berpuasa setahun penuh, puasa Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) aku harapkan kepada Allah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang, dan puasa Asyura (tanggal 10 Muharram) aku harap kepada Allah dapat menghapuskan dosa setahun lalu.” [HR. Muslim dari Qotadah radhiyallahu’anhu]

3. Memperbanyak Tahlil, Takbir, Tahmid dan Dzikir-dzikir Lainnya yang

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Tidaklah ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih yang lebih dicintai Allah ta’ala daripada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka perbanyaklah ucapan tahlil, takbir dan tahmid.” [HR. Ahmad no. 6154 dari Ibnu Umar radhiyallahu’anhuma, dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Syu’aib Al-Anauth]

4. Sholat ‘Ied dan Berqurban

Allah ta’ala berfirman,

“Maka sholatlah hanya untuk Rabb-mu dan berqurbanlah hanya untuk-Nya.” [Al-Kautsar: 2]

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam, bersabda:

“Sesungguhnya pertama kali yang akan kita kerjakan pada hari ini adalah sholat, kemudian kita kembali, lalu kita berqurban. Maka barangsiapa yang melakukan itu, berarti dia telah mengamalkan sunnah kami dengan tepat, dan barangsiapa yang menyembelih sebelum sholat maka itu hanyalah daging biasa yang dia berikan untuk keluarganya dan bukanlah sebuah nusuk (ibadah qurban) sama sekali.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Al-Baro’ bin ‘Azib radhiyallahu’anhu]

“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

AMALAN-AMALAN YANG SETARA HAJI DAN UMRAH

Allah Maha Pemurah, diantara refleksi sifat Maha Pemurah Allah, Allah mensyariatkan  amal-amal yang ringan dikerjakan namun pahalanya (balasan kebaikannya) berlipat ganda, baik di dunia maupun di akhirat. Dengan amal-amal ini, kita sebagai umat manusia yang ditakdirkan Allah memiliki usia yang pendek, rata-rata antara 60-70 tahun bisa mengoptimalkan usia kita untuk mendapatkan balasan kebaikan dari Allah yang berlipat ganda. Diantara amal-amal ringan dan berpahala besar adalah amal-amal yang pahalanya setara dengan pahala ibadah haji dan umrah. Amalan-amalan tersebut diantaranya:

  1. KELUAR DARI RUMAH MENUJU SHALAT FARDHU DI MASJID DALAM KONDISI SUDAH BERSUCI.
    Dari ABu Umamah, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa keluar dari rumahnya dalam keadaan suci untuk menunaikan shalat fardhu, pahalanya seperti pahala haji orang berihram.” (Shahih: Shahih Abu Dawud, no 558)
  2. SHALAT BERJAMA’AH DI MASJID KEMUDIAN DUDUK BERDZIKIR SAMPAI TERBIT MATAHARI LALU SHALAT 2 RAKA’AT
    Dari Anas bin Malik, Rasulullah s.a.w bersabda, ” Barangsiapa Shalat Subuh berjamaah lalu duduk berdzikir (mengingat) Allah sampai terbit matahari kemudian shalat 2 raka’at, maka baginya pahala seperti pahala haji dan umrah yang sempurna, sempurna, sempurna.” (Hasan: Shahih At-Tirmidzi, no. 480, 586; Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib, no. 464; Ash-Shahihah, no. 3403)(Dishahihkan oleh Al-Albani). Dalam hadits lain, dari Abu Umamah dan ‘Utbah bin ‘Abd, Rasulullah bersabda, “Barangsiapa shalat Subuh dalam sebuah masjid secara berjama’ah lalu tinggal di dalamnya hingga ia Shalat Dhuha, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang haji dan umrah yang sempurna haji dan umrahnya.” (Hasan li ghairihi: Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, no. 469).

Dalam hadits-hadits diatas, Rasulullah menyebutkan dzikir secara umum. Masuk dalam dzikir adalah ta’lim/kajian Islam. Selain lebih banyak faedahnya karena mempelajari ilmu syar’i, juga karena lebih meringankan jiwa yang terkadang malas berdzikir sendiri dalam waktu yang cukup lama.

  1. MEMPELAJARI ATAU MENGAJARKAN KEBAIKAN DI MASJID

Dari Abu Umamah, Nabi saw bersabda,” Barangsiapa pergi ke masjid, dia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala seperti pahala orang haji sempurna hajinya.”. Dalam riwayat lain dengan redaksi, “Barangsiapa berangkat di pagi hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali untuk mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka baginya pahala orang yang melaksanakan umrah dengan umrah yang sempurna. Dan barangsiapa berangkat sore hari menuju masjid, ia tidak menginginkan kecuali mempelajari suatu kebaikan atau mengajarkannya, maka ia mendapatkan pahala orang yang naik haji dengan haji yang sempurna.”(Hasan Shahih: Shahih At-Targhib wa AT-Tarhib no 82).

Perlu diketahui, pahala ini bisa didapat dengan syarat, pelaku sebelum masuk ke dalam masjid, di perjalanan menuju masjid, atau masih dirumah, haruslah berniat untuk mempelajari atau mengajarkan kebaikan. Nabi dalam hadits diatas tidak menetapkan durasi waktu tertentu.

  1. MELAKSANAKAN SHALAT FARDHU BERJAMA’AH DAN SHALAT DHUHA DI MASJID

Dari Abu Umamah, Rasulullah s.a.w bersabda,” Barangsiapa berjalan menuju berjama’ah sholat wajib, maka dia seperti berhaji. Dan barang siapa berjalan menuju shalat tathawwu'(sunnah) maka dia seperti berumrah yangnafilah (istilah lain sunnah).” (Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 6556), dalam hadits yang lainnya, Rasulullah bersabda,” Barangsiapa keluar dari rumahnya dalam keadaan sudah bersuci untuk shalat fardhu maka pahalanya sepertipahala orang haji yang berihram, Dan barangsiapa keluar shalat Dhuha dia tidak bermaksud kecuali itu, maka pahalanya seperti pahala orang yang berumrah. Dan shalat sesudah shalat yang tidak ada perbuatan sia-sia di antara keduanya ditulis di kitab ‘Illiyyin.“( Shahih: Shahih Sunan Abu Dawud, no. 522;Shahih Al-Jami’ no. 6228)

Itulah beberapa amalan yang pahalanya setara dengan pahala orang yang sedang berhaji dan berumrah. Perlu diingat, amal-amal ini tidak bisa menggugurkan kewajiban berhaji dan berumrah. Orang-orang yang telah mengerjakan amal-amal ini tetap wajib melaksanakan ibadah haji dan umrah.

Amalah Bulan Syawal

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat/49 : 13)

Lalu bagaimana amal seorang muslim di bulan Syawal? Berangkat dari firman allah tersebut, maka seharusnya ada peningkatan di bulan ini. Dan peningkatan itu tidak lain adalah berangkat dari sikap istiqamah. Menetapi agama Allah, berjalan lurus di atas ajarannya.

Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah bertaubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Huud/11 : 112)
Bentuk sikap istiqamah ini dalam amal adalah dengan mengerjakannya secara kontinyu, terus-menerus. Rasulullah SAW bersabda:

Sesungguhnya amal yang paling dicintai Allah adalah yang terus menerus (kontinyu) meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka amal-amal yang telah kita biasakan di bulan Ramadhan, hendaknya tetap dipertahankan selama bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Memang tidak banyak amalan khusus di bulan Syawal dibandingkan bulan-bulan lainnya. Akan tetapi, Allah telah memberikan kesempatan berupa satu amal khusus di bulan ini berupa puasa Syawal. R asulullah SAW bersabda:

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim. Ibnu Majah, shahih)

Adapun pelaksanaan  puasa Syawal menurut Sayyid Sabiq di dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat  Imam Ahmad, puasa Syawal boleh dilakukan secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Sedangkan menurut madzhab Syafi’i dan Hanafi, puasa Syawal lebih utama dilaksanakan secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal.. Ini artinya, bagi kita yang belum melaksanakan puasa Syawal, masih ada kesempatan mengerjakannya.
Jika kita istiqamah, maka Allah SWT menjanjikan tiga keistimewaan yang akan kita dapatkan. Ketiganya difirmankan Allah dalam satu ayat yang sama, yaitu dalam firman-Nya:

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushilat/41 : 30)