Asal Usul dan Tujuan Kehidupan

Dari mana, untuk apa, dan mau kemana kita hidup?

Allah Sang Maha Pencipta yang Maha Sempurna. Bahwa, manusia diciptakan dengan mengikuti FitrahNya. Yang dengan Fitrah itu manusia akan mencapai kualitas tertingginya sebagai seorang makhluk paling sempurna dari yang pernah diciptakan Allah. Untuk mencapai kesempurnaan itu manusia harus paham caranya, yaitu dengan mengikuti petunjukNya dalam sebuah agama Fitrah.

Manusia memiliki kebebasan melakukan apa saja untuk kebahagiaan hidupnya. Ia dihadapkan pada dua pilihan: kebajikan ataukah kejahatan. Maka berbahagialah orang-orang yang memilih membersihkan Jiwanya, dan menderitalah, orang-orang yang mengotorinya. Orang yang bersih Jiwanya, bakal jernih dalam memandang kehidupan, dan kemudian memperoleh kebahagiaan karena bisa bersikap dan bertindak sesuai dengan sunnatullah yang berprinsip pada keseimbangan. Sebaliknya, orang yang hatinya kotor. Hidupnya penuh dengan masalah, karena ia tidak tahu bagaimana harus berlaku dalam keseimbangan Sunnatullah itu.

Maka, setiap diri akan menuai hasil perbuatan diri sendiri. Segala kebaikan akan kembali, sebagaimana kejahatan yang juga kembali pada diri masing-masing.

Allah mengarahkan manusia agar tidak terjebak pada kehidupan Duniawi yang mengikat kebahagiaan hanya sekadar sekualitas materi. Kehidupan manusia digelar melewati tahapan-tahapan kehidupan yang bertingkat-tingkat. Awalnya tidak ada, kemudian menjadi ada, dan akhirnya tidak ada kembali. Asalnya dari Allah, kemudian diciptakan oleh Allah, dan akhirnya kembali lagi kepada Allah. Tetapi manusia sering lupa, ia ingin hidup abadi, ingin Hidup terus, ingin Berkuasa terus, Berkehendak sebebas-bebasnya, dan segala macam sifat keabadian lainnya. Ia lupa bahwa dirinya hanyalah manusia biasa yang diciptakan, berupa perpaduan badan material, jiwa energial dan Ruh. Manusia ada karena Ruh masih bersemayam dalam dirinya. Begitu Ruh itu dicabut, maka eksistensi sebagai manusia ikut lenyap. Jangankan, pada waktu Ruh dicabut, saat tidur saja sudah tidak merasakan apa-apa. Eksistensi sudah hilang, seiring kesadaran yang juga hilang.

Karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada manusia agar berdoa menjelang tidur dan sesudah tidur. ‘Bismika Allahumma ahyaa wa bismika amuut’ (Dengan Nama Mu ya Allah aku hidup, dan dengan Nama Mu aku mati). Dan ketika terbangun dari tidur, Rasulullah saw mengajarkan untuk membaca: ‘Alhamdulillaahilladzii ahyana ba’da maa amaatana wa ilaihi nusyur’ (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali sesudah kematianku, dan kepadaNya lah aku kembali).

Begitulah beliau mengajarkan kepada manusia untuk berdoa menjelang/sesudah tidur. Karena manusia tidak tahu apakah bisa bangun kembali ataukah tidak.

Begitu tipisnya antara hidup dan mati, setiap hari kita ditidurkan oleh Allah beberapa jam. Saat itulah kita telah mencicipi kematian. Kita tidak bisa merasakan, mengendalikan, apalagi melawan. Setiap hari, kita telah ‘berlatih’ untuk menemui kematian yang sesungguhnya. Tapi seringkali, kita merasa betapa kematian masih begitu jauhnya. Padahal, kematian demikian dekat dengan kehidupan. Karena kehidupan dan kematian selalu bersama-sama, di mana pun mereka berada. Kematian hanyalah berpisahnya badan dengan Jiwa & Ruh untuk sementara waktu. Tapi bukan untuk 1-2 jam, melainkan berjuta tahun sampai bangun dari kematian di Hari Kebangkitan.

“Mereka berkata: “Aduhai celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami (kubur)?.”Inilah yang dijanjikan (Tuhan) Yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya).” (Yasin/36:52)

Akankah kita termasuk orang-orang yang menyesal/berbahagia saat ‘dibangunkan? Semua itu bergantung kepada bagaimana saat-saat sebelum kita berangkat tidur itu. Kalau kita memasuki saat-saat tidur itu dengan penuh masalah yang membelit kehidupan kita, maka sungguh tidur kita akan menjadi ‘Mimpi Buruk’

Berbeda dengan yang telah melatih dan membiasakan dirinya untuk hidup bersih penuh kedamaian dan cinta kasih. ‘Tidur’ mereka nikmat. Mereka bermimpi indah sepanjang tidurnya yang pulas. Dan di ‘Esok Harinya’, mereka terbangun dalam kebahagiaan Jiwa yang tenang.

“Hai Jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba Ku, dn masuklah ke dam surga Ku”(QS Fajr/27: 30)

“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yg berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunandan bertaubat kepada-Mu).”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: