APA YANG PERLU KITA TINGGALKAN

Segala puji bagi Allah, kita memuji-Nya dan meminta pertolongan, pengampunan, dan petunjuk-Nya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri kita dan keburukan amal  kita. Barang siapa mendapat dari petunjuk Allah maka tidak akan ada yang menyesatkannya,

Ada dua pertanyaan yang seyogianya mengiringi kepergian kita.

Pertanyaan pertama untuk mengiringi kepergian kita menuju tempat beraktifitas ,adalah; kebajikan apa yang akan di persembahkan kepada Allah SWT dan kebajikan apa yang akan di berikan kepada manusia?

Pertanyaan kedua untuk mengiringi kepergian kita menuju kematian yang sementara (tidur) dan kematian yang sesungguhnya dengan terlepasnya ruh dari jasad, adalah; kebajikan apa yang sudah dilakukan untuk  Allah dan kebajikan apa yang sudah dilakukan untuk manusia?

Dua pertanyaan tersebut akan menjadi suatu hal yang sangat mendasar, karena dengan adanya dua hal tersebut, dalam setiap hari kita akan mempunyai motivasi positif dalam hidup; pengabdian kepada Allah SWT dan perbuatan baik bagi manusia.

Selanjutnya, apa yang kita lakukan hendaklah dimulai dengan nama Allah—didasari oleh semangat melaksanakan perintah Allah dan dipersembahkan kepada Allah. Pada dasarnya, kebaikan apapun yang dilakukan karena mengikuti perintah Allah merupakan wujud kebaikan universal yang bermanfaat kepada diri sendiri dan juga orang lain.

Semangat ajaran Islam mengajak muslim agar menjadi orang yang bermanfaat bagi muslim lainnya, bukan hanya kepada diri sendiri dan bagi umat Muslim saja. Bahkan manusia yang bermanfaat bagi manusia lainnya adalah predikat tertinggi dalam Islam. Nabi Muhammad s.a.w. bersabda, “Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”

Di sini Konsekuensi logisnya, umat yang mengikutinya pun harus dapat menempatkan dan memposisikan dirinya menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain maupun bagi alam semesta yang terdiri dari banyak makhluk dengan latar belakang berbeda dan juga kepercayaan yang berbeda.

Al-Qur’an mengajarkan umat Muslim untuk menjadi atau berfungsi sebagai lebah yang dapat menghasilkan madu, satu jenis minuman yang sangat bermanfaat bagi manusia.

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: “Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”,

“Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.(Q.S. al-Nahl/16: 68-69).

Terkait dengan ayat tersebut, umat Muslim diharapkan dapat memberikan manfaat dengan kontribusi yang direalisasikan melalui pikiran atau karya nyata lainnya. Jadi karya maupun hasil dari kreativitas kerja Muslim hendaklah merupakan madu yang menyehatkan dan sangat bermanfaat untuk banyak hal, bukan sampah atau racun yang menyengsarakan apalagi mematikan. Karya dibuat dan diberikan dengan tanggungjawab untuk membuat manusia semakin baik. Kerja harus dilakukan dengan penuh pengabdian bagi Allah dan kemanusiaan serta penuh tanggungjawab kepada Allah dan kemanusiaan. Kalaupun tidak bisa berpikir dan berkarya, cukuplah hanya dengan tidak berbuat sesuatu yang dapat merugikan manusia yang lainnya karena bagi orang tipe ini “diam adalah emas”—diam menjadi lebih baik baginya daripada berbuat atau berbicara yang justru hanya berdampak bagi kerugian di pihak lain.

Banyak hal besar dimulai dengan yang kecil. Dengan demikian seseorang akan menikmati berbagai pengalaman antara kesengsaraan dan kenikmatan. (Seperti halnya untuk menjadi seorang pemimpin sebaiknya berangkat dari bawah agar tetap dapat menyadari betapa menghargai orang-orang di bawah itu penting, dan bahwa segala bentuk penindasan itu perbuatan yang dikutuk oleh banyak orang). Tentu apa yang sering kita katakan akan kita perlukan di sini bahwa “Sedikit lebih baik daripada tidak sama sekali.” Namun tentunya kalimat itu tidak menjadi legitimasi untuk mengerjakan dan menjalankan sesuatunya secara asal dan kurang bertanggungjawab. Karena kita yakin bahwa sesuatu yang asal-asalan dan tidak bertanggungjawab tidak akan mendatangkan manfaat apapun melainkan hanya penyesalan dan bentuk kebodohan. Wallâhu a’lam bis-shawwâb

“Subhanakallahumma wabihamdika asyhadu alla ilaha illa Anta astaghfiruka wa atubu ilaik (Maha Suci Engkau ya Allah dan segala puji untuk-Mu. Saya bersaksi bahwa tiada ilah yang berhak disembah selain Engkau, saya meminta ampunan dan bertaubat kepada-Mu).”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: